| |
| Medco Siap Ekspor 70% Hasil Kilang Gas Senoro |
| Kamis, 11 Maret 2010, 00:08:56 WIB |
| |
|
|
| |
Industri Makanan Segera Beralih Ke BBM
Jakarta, RMexpose.Kebijakan tata niaga gas di dalam negeri tampaknya benar-benar amburadul. Di tengah sulitnya pasokan gas dalam negeri, PT Medco Energi Internasional Tbk akan mengekspor 70 persen hasil dari kilang gas alam cair (LNG) Donggi Senoro.
Menurut Presiden Komisaris Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro, pemerintah telah menetapkan pembagian tersebut. “Untuk domestik kita jual 30 persen,” ujar dia di Jakarta, kemarin.
Kilang tersebut, kata dia, diperkirakan akan menghasilkan 300 juta kubik per hari. Sedangkan cadangan pasti kilang ini mencapai 2,05 triliun kaki kubik.
Rencananya kilang miliik PT Pertamina (Persero) dan PT Medco Energi Internasional Tbk, serta Mitshubishi itu akan mulai beroperasi setelah pemerintah memberikan ijin untuk membangun. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat,” tutur Hilmi.
Niat Medco untuk mengekspor gas ini terjadi di tengah hiruk pikuk krisis gas dalam negeri. Bahkan, niat tersebut seolah bertentangan dengan teriakan para pengusaha domestik yang menilai pemerintah tidak melindungi industri dalam negeri. Penyesalan ini lantaran pemerintah dinilai tidak bisa mengatasi krisis gas bagi industri dalam negeri, khususnya Jakarta dan sekitarnya.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmi) Thomas Darmawan menyatakan, kebutuhan gas bagi industri sangat vital, sehingga tidak bisa kompromi bila pasokan bahan bakar itu tidak mengalir. “Kalau begini, industri jadi bingung,” kata Thomas.
Menurut dia, seharusnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral segera mencari pengganti sumber gas yang bisa memasok kekurangan itu. “Saya dengar akan diisi dari salah satu kilang, tapi nyatanya kami masih kekurangan gas,” ujarnya.
Akibatnya, kata Thomas, biaya produksi menjadi naik akibat beralih pada bahan bakar minyak. “Mau tidak mau kami harus menggunakan BBM,” imbuhnya.
Selain itu, kata Thomas, kelangkaan gas juga berpotensi menurunkan pendapatan daerah. Yang lebih penting, kepercayaan investor asing yang telah menanamkan modal mendirikan pabrik bakal hilang, karena tidak mendapatkan pasokan gas. DIN
|
| |
|
|
|
|
|
|
Untitled Document
|
|
|
Untitled Document
|
| |
Untitled Document
|
|
|
|